kamu adalah harapan, tempat aku menggantungkan angan.

kamu adalah kebebasan, yang berdiri diatas kepercayaan.

kamu adalah perjalanan, yang ku canangkan untuk masa depan.

kamu. kamu kah itu?

Categories: letShare | Tags: , , | Leave a comment

Soulmate

Aku terhenti. Di sudut sana mataku terarah. Sudut dimana ada dia diantaranya. Sosok itu, sosok ramah yang selalu aku kagumi secara tersembunyi. Apa dia mengetahui keberadaanku? Apa dia menyadari aku selalu menatapnya dimanapun ia berada?

“woy Lex! Apa kabar lo?” tanya seorang pria berbadan tinggi besar kepada salah seorang temannya. Alex namanya.

“baik-baik gue, bro. Lo gimana? Gue denger udah lolos ITB ye? Akhirnya. Selamat, Bi!” jawab Alex kepada si penanya, Alby.

Alfarabby Auffar. Lihat dia, sosoknya. Ah, tubuh gagah itu, lengan besar dan terlihat kokoh itu. Aku yakin, selain bermain basket seperti yang sedang ia lakukan saat ini, dia juga disiplin berlatih angkat beban. Alby, lihatlah kemari. Aku yang selalu memandangi dari setiap seberang tempatmu berada.

heh kunti, ngelamun aja lo!” kaget seorang wanita berambut panjang kepada temannya yang sedang asik memandang seseorang diseberangnya.

“aku ga ngelamun kok!” jawabnya singkat. Sinis.

“nah! Pasti lo lagi ngeliatin cowok gede itu ya? Ngimpi mau deket sama dia wuuu!” ujar sang teman menurunkan semangat.

“gapapa, aku seneng kok ngeliatin dia aja dari sini. Itu udah cukup buat aku.” Sembari beranjak meninggalkan temannya.

Bersama denganmu mungkin benar hanyalah mimpi. Ya, sebuah mimpi disiang hari yang hanya akan terjadi dalam waktu beberapa saat saja. Ah, dapat memimpikannyapun aku sungguh akan bahagia. Lihat dirimu, banyak cinta disana. Sedang aku? Jika sesekali orangtua ku mengingatku dalam doanya, itupun sudah sangat bahagia untukku.

“Bi, kamu keren mainnya!” sorak seorang perempuan dengan kaki jenjang sembari berlari kecil menghampiri Alby yang sedang terduduk lelah dipinggir lapangan.

“Jess? Kamu kok disini?” tanya Alby jengah.

“Aku mau liat kamu latihan aja hehe. Udah makan? Ada tempat dimsum all you can eat loh, kamu pasti suka.”

“hm, ayo deh boleh.”

Alby, siapa perempuan itu? Ada hubungan apa kamu dengannya? Kenapa kamu mau pergi berdua dengannya? Aku sedih. Harusnya aku sadar, aku hanyalah seorang yang tidak akan pernah dianggap. Ya, harusnya aku sadar itu dari dulu.

“Jess, kamu pernah merasa mencintai seseorang tapi kamu belum pernah melhat wujudnya? Hanya ada didalam imajinasimu, mimpimu.” Tanya Alby sembari menyetir Fordnya.

“hah? Maksud kamu?”

“gini loh Jess, belakangan ini aku sering memimpikan seorang perempuan. Cantik. Aku sangat mencintainya, dia pun begitu. Tapi aku tidak pernah tahu siapa dia. Sialnya, mimpi itu terbawa sampai alam nyataku. Aku merasa kalo dia selalu ada didekatku, memperhatikanku.”

“Alby, kita udah dari TK yah sahabatan. Tapi baru kali ini aku denger kamu ga realistis kaya gini. Aneh deh!”

“iya..”

anyway, aku turun di Fasatelo aja deh Bi. Feel like bored. Udah lama ga kesana. Wanna join?” tawar Jessica pada Alby.

not today. I wanna meet my soulmate on my dream, Jess.”

“haha gila kamu! Thanks ya udah traktir makannya tadi. Bye Bi.” Kalimat terakhir Jessica sembari mencium kedua pipi Alby lalu keluar dari mobilnya.

“bye Jess. Jangan mabok ya!”

Sedang apa Alby sekarang? Bersama perempuan tadikah? Aku cemburu. Harusnya aku yang berada disampingnya. Harusnya aku yang memberinya minum setiap kali ia selesai bermain basket bersama teman-temannya. Harusnya aku!

“GOD! Jadi siapa perempuan itu sebenarnya!” Bentak Alby pada dirinya sendiri.

“kalo dia emang jodoh gue, deketin Tuhan! Tunjukkin dia ke gue!” Alby semakin emosi, ia terus menginjak pedal gasnya tanpa kendali.

“BRAAAAAAAAAAAAK!”

***

Alby? Kenapa sepagi ini dia berlatih basket? Ah, mungkin dia sedang bosan. Tapi ini baru pukul 3 pagi. Sedang apa dia? Mungkinkah ia putus cinta lalu dan sekarang sedang patah hati? Entahlah. Terimakasih Tuhan, aku bisa lebih lama memandanginya saat ini. aku ingin berada lebih dekat dengannya.

“loh kamu!” teriak Alby kaget.

“siapa? Aku?” tanya sang perempuan berambut panjang.

“iya kamu. Kamu ngapain disini?”

“kamu bisa ngeliat aku? Becanda kan?”

“jadi, yang selama ini ada dimimpi aku itu kamu? Dan kamu..” Alby terhenti

“aku ini setan.” Lanjut sang perempuan. “aku ini setan yang selalu memandangi kamu dengan leluasaku, yang selalu berdoa bahwa suatu saat kamu akan menyadari keberadaanku.”

“dan kamu berhasil” jawab Alby lemas. “aku sudah menjadi sepertimu. Karena ingin berada lebih dekat denganmu.”

“jadi kamu sudah meninggal?” tanya sang perempuan terkejut.

“iya. Aku meminta agar Tuhan segera mempertemukanku dengan kamu. Karena aku merasa kamulah jodohku. Dan Tuhan mengabulkannya. Aku baru saja kecelakaan beberapa jam lalu.”

“maaf..”

“tidak, ini bukan salah kamu. Aku yang memintanya. Dan aku bahagia bisa bertemu kamu sekarang. Mungkin inilah jalan kita.” Alby tersenyum.

“terimakasih.”

NB : This story is only fiction.

(07 Juni 2013)

Categories: letShare | Tags: , , , | Leave a comment

Welcome Jakarta #3

Abay (nama disamarkan .red), sudah hampir empat tahun gue kenal sama cowok satu ini. Beberapa hari lalu baru dapat kabar kalau di aru saja di wisuda dari salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Jakarta.

Senang rasanya tiap kali melihat Abay memposting mengenai hal-hal kecil yang telah dipikirkannya secara mendalam, dan menjadi hal yang bermakna. Ya, Abay adalah seorang motivator. Oh, entahlah motivator atau hypnotheraphy. Gue dan Abay belajar hipnoterapi dari guru yang sama. Mungkin bedanya, pelajaran yang gue dapat hanya digunakan untuk kepentingan gue pribadi, sedangkan Abay menggunakannya untuk membantu orang lain. Yang gue tau, saat ini Abay sudah mempunyai perusahaan khusus dibidang self theraphy. Kece.

Abay sendiri berasal dari Surabaya, ia memberanikan diri untuk merantau ke Jakarta demi menempuh pendidikan. Dan semesta mendukung, selain mendapatkan pendidikan yang baik, ia pun juga mandapatkan hal-hal bermakna lain yang telah ia perjuangkan selama ia hidup sendiri di Jakarta.

Anak muda semacam Abay ini rasanya akan lebih menyenangkan jika jumlahnya bertambah. Ya, anak muda yang berani bergerak dan melakukan sesuatu untuk hidupnya, tidak takut dengan keadaan, dan sangat terbuka.

Nah, terbuka merupakan salah satu pelajaran terpenting yang gue dapat dari banyak teman-teman hebat. Mereka tidak menganggap dirinya hebat. Walaupun secara penglihatan sudah sukses, namun Abay masih mau saling bertukar pikiran dan selalu welcome terhadap semua orang. terbuka. terbuka secara pemikiran, dan tindakan.

Terimakasih untuk contoh baik yang telah diberikan, Abay. Terimakasih sudah menginspirasi. And,

Welcome Jakarta Abay #3

Categories: letShare | Tags: , | Leave a comment

Welcome Jakarta #2

Sebut saja Baro. Remaja hitam manis asal Ambon yang gue kenal saat iseng-iseng ikutan teman untuk take foto di salah satu studio di daerah Pancoran. Usia Baro baru menginjak 19 tahun, dan sedang menjalani kuliah di salah satu universitas macam franchise di Jakarta, sebut saja BSI.

Kedatangan Baro ke Jakarta bukanlah tanpa tujuan, atau hanya sekedar untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi. Melainkan untuk mencapai cita-cita lain yang baru saja ia temui, menjadi model.

Dengan postur tubuh yang tinggi, dada bidang, dan kulit sawo matang yang eksotis, bukan hal yang sulit rasanya untuk menjadi model professional untuknya. Terlebih Baro bukanlah seorang yang menutup diri dari lingkungan luar. Ia sangat ramah, dan mau belajar dari siapapun yang ditemuinya.

Gue senang bertemu dengan Baro, karena kehadirannya merupakan hiburan tersendiri. Rambut yang dibuat blonde, kulit cokelat gelap, lesung pipi, dan cara bicaranya yang masih kental berlogat Ambon terlebih keramahannya, lucu sekali.

Ketika gue tanya kenapa di pindah ke Jakarta, Baro bercerita cukup panjang. Bahwa sebelumnya ia hanya seorang siswa biasa yang juga hobi berenang lalu menjadi atlit renang di Ambon. Beberapa kali menjuarai pertandingan, hingga datanglah tawaran dari berbagai pihak untuk menjadi model. Banyaknya tawaran untuk menjadi model membuat Baro akhirnya memutuskan untuk lebih menekuni dunia modelling dengan menetap di Jakarta. Anything possible in Jakarta. Termasuk menjadi model terkenal, dan kaya raya.

“ikut casting film de, lo tuh potensial banget loh.” Ujarku pada Baro saat itu, tapi ia menyadari bahwa fisik saja tidak cukup untuk menjadi seorang artis. Logat bicaranya saat itu masih menjadi penghalang baginnya untuk mencoba mengikuti casting. Cukup realistis menurut gue.

Dan hei, Baro, semoga ia dapat menjadi model professional secepatnya tanpa meninggalkan bangku kuliah, dan dapat tetap mempertahankan diri di jalur yang benar, dan tentu saja tetap menjadi lelaki seutuhnya.

Welcome Jakarta Baro #2

Categories: letShare | Tags: , , , | Leave a comment

ARG. CLR.

too much drama, too predictable, too teenlit, too anticlimactic, too good to be true? that’s why it called spark. just to spark a bit of emotion hearts readers.

believe it?

hihihi. no actually, because I am still learning to write fiction. even with nonfiction. therefore, criticism and suggestions will be an important lesson for me. I would be very happy if someone gave advice to my writings on this blog. feel free to contact me by email at aprisya dot krispriana at gmail dot com :)

Categories: letShare | Tags: , , , , , | Leave a comment

Lainnya

“Eh, sini tangan lo gue gambar” pintaku pada Ota saat ia duduk disampingku ketika tidak ada mata kuliah dikelas. Lalu Ota memberikan tangannya pasrah padaku.

“yang bagus tapi ya” jawabnya.

Aku hanya tersenyum sembari memgegang tangan kanannya dan mulai menyoret-nyoret kelima kukunya dengan spidol, pinsil mekanik, bahkan eyeliner yang ada di tempat pinsilku.

“ini hadiah ulangtahun dari gue, jangan dihapus ya” pintaku padanya.

Gambar-gambarku di kuku Ota semakin absurd. Aku tidak pandai menggambar, dan sesi nail art ini mungkin hanya sebatas modus agar setidaknya aku dapat dekat dengannya.

Ota merupakan mahasiswa pindahan dari universitas lain dikampusku, namun untuk jurusan yang sama. Entah karena alasan apa ia pindah dari kampus lamanya. Yang pasti, aku suka dengan sepatu-sepatunya yang eye catching, dan hampir setiap hari ia berganti-ganti sepatu. Ah, dasar wanita!

Lalu hari itu, menjadi hari pertamaku lebih dekat dengan Ota, dan menjadi awal hubungaku dengannya.

***

Ota         : Aku udah didepan loh

Me         : wait ya, otw turun

Ota         : iya, santai aja

“hei! Maaf ya lama. Tadi tuh aku ngurus proposal buat lomba office itu loh. Ya ampun repot banget Ta” ucapku tergesa-gesa pada Ota sambil menggunakan seat belt.

“kalo mau sukses kan emang harus repot Sya hehe.” Jawabnya. “Jadi kita mau kemana? Macet banget loh tadi dijalan”

“kamu udah makan? Ke Santa aja yuk!” ajakku padanya.

“oke siap ibu negara”

Ota melaju mobilnya pelan dari pelataran tempat makan dikisaran Darmawangsa. Kami menghabiskan waktu sembari bernyanyi bersama lagu-lagu yang keluar dari tape mobilnya. Aku suka suaranya, aku suka senyum ramahnya, aku suka caranya menerima dan mengerti aku. Tidak seperti Dito, pacarku.

“Ta, kakakku lagi di HC nih. Kita nyusul aja yuk” pintaku pada Ota

“boleh. Terus kamu gajadi ke Santa?”

“gausah, besok-besok masih bisa kan hehe”

“baiklah”

Ah, ini yang tidak Dito punya. Menerima kelabilanku dengan manis. Tidak ada emosi, tidak ada ceramah, tidak ada omelan. Ini yang membuatku semakin suka dengan Ota.

“bisa aja lo” semprot kakak ku tepat disampingku. “gue bilangin Dito loh!” ancamnya.

“jangan dong, gila lo”

“yaudah nanti billnya lo yang bayar”

“nanti aku aja kak yang bayar” jawab Ota

“ih gitu dong haha” Aku hanya bengong sembari menatap sinis kakak ku. Awas dia.

Hari semakin malam, saat ini sudah pukul 11.00 malam. Kakak ku dan suaminya mengajakku untuk pergi ke salah satu club di bilangan Kemang. Aku setuju, pun dengan Ota yang sampai dua minggu sejak kali pertama aku mencoret-coret tangannya tidak pernah menolak permintaanku.

“udah jam segini, gue pulang kemana nih? Pasti udah dikunciin” tanyaku saat melihat jam di gadgetku. Waktu menunjukkan pukul 2 pagi. Terlalu pagi untuk pulang kerumah.

“yah, dirumah gue ada si gendut. Mau tidur dimana lo nanti” jawab kakakku.

“yaudah sambil jalan aja yuk sampe pagi” ajak Ota.

Akhirnya kami berpisah dengan kakakku dan suaminya. Aku tidak tahu akan dibawa kemana oleh Ota. Kami berjalan begitu saja mengikuti arah, sampai akhirnya aku sadar bahwa kami sudah berada di atas puncak pass.

“kamu capek ga? Aku ada villa disini. Kita bisa istirahat sampai siang. Tapi kalo mau nongkrong-nongkrong aja gapapa sih kita muter-muter aja disini” tanya Ota sembari meminggirkan mobilnya.

“aku bebas kok. Kan kamu yang nyetir. Tapi prefer ke villa aja sih. Nanti aku pijitin deh tangan kamu ya”

“oke”

Sesampainya di villa, Ota segera menelfon seseorang yang menjaga villanya. Orang itu langsung keluar dan membukakan pintu. Kami disambut hangat, ramah sekali dengan logat sundanya yang kental.

“Aa teh mau kesini kenapa dadakan sekali? Mamang belum sempat beberes a.” Ucap sang penjaga villa.

“ah gapapa mang. Ini Cuma sebentar kok. Besok siang juga udah pulang.” Jawab Ota

“kalo gitu mamang teh pamit ya kang, itu mamang sudah buatkan teh dimeja, silakan diminum.”

“iya, makasih ya kang” jawabku dan Ota serentak.

Pada akhirnya aku dan Ota tidak istirahat. Kami hanya duduk-duduk diatas sofa sambil menikmati teh hangat bikinan mamang penjaga villa.

Aku mengambil tangan Ota, dan mulai memijatnya. Ini bukan hal baru untukku, karena sebelumnya akupun seringkali memijat Dito jika ia sedang lelah setelah lama menyetir. Hanya beda tempat, dan tentunya orang.

“kata ayahku, apapun penyakitnya, bagian ini yang harus dipijat sampai lemas. Ga tengang kaya gini lagi” ucapku pada Ota sambil memijat bagian bawah ibu jarinya.

“kata ayahku, calon istri yang baik itu yang bisa pijat” ucap Ota.

“kaya aku gitu ya Ta? Haha” aku tertawa meledeknya.

Setelah merasa cukup untuk memijat kedua tangan Ota, aku kembali bersender pada sofa. Perlahan aku menaruh kepalaku tepat dibahu kiri Ota. Entah apa yang akan Dito katakan jika ia mengetahui hubunganku dengan pria lain seperti ini. aku tak sanggup membayangkannya, dan tak ingin.

“aku sayang kamu, Sya” ucap Ota yang perlahan mengelus-elus rambutku halus. Aku hanya terdiam, bingung dengan perasaanku sendiri. “Sampai kapan kita kaya gini? Sampai kapan aku jadi yang kedua buat kamu?” suara Ota bergetar. Aku tahu ia meneteskan air matanya, tapi aku tak berani menatapnya.

“a, aku gatau Ta. Maaf” jawabku pelan. Aku takut, takut sekali. Aku takut kehilangan momen-momen bahagiaku dengan Ota. Namun aku juga terlalu takut untuk melepaskan Dito. Dito yang sudah sangat setia bersamaku satu setengah tahun belakangan ini. Dito yang sudah sangat dekat dengan keluargaku.

“aku bisa jadi lebih baik dari Dito, Sya”

Aku mengabaikan ucapan Ota. Aku mengesampingkan tubuhku, dan memeluknya erat. Perlahan air matakupun jatuh membasahi bagian lehernya. “tolong kasih aku waktu untuk berpikir Ta”

***

Setelah kepulanganku dari Puncak, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Ota. Nomernya tak lagi bisa dihubungi, bahkan tak satupun teman yang tahu contact barunya. Aku sudah mencoba untuk chat facebooknya, mention twitternya, tapi tidak pernah ada jawaban.

***

SATU TAHUN KEMUDIAN…

Akhirnya, ini hariku setelah empat tahun menyelesaikan kuliahku selama empat tahun. Akhirnya aku lulus, IPK ku sangat memuaskan, bahkan aku sudah bekerja di perusahaan impianku. Ini hariku.

“halo, Assalamualaikum” jawabku saat mengangkat telfon dari nomer yang tidak ku kenal.

“walaikumsalam. Apa kabar, Sya?” tanya seseorang dari seberang.

“baik Alhamdulillah. Ini siapa ya?” tanyaku penasaran.

“kamu bisa ke rooftop sekarang. Aku tunggu disitu ya. Bye. Tuut tuut”

Aku terdiam. Aku lalu memberikan beberapa bucket bunga dan ijazahku pada orangtuaku. “aku pergi bentar ya ma” aku segera berlari kecil mencari lift, menuju rooftop. Sesampainya di lantai 7 aku masih harus manaiki anak tangga untuk sampai kesana.

Sesampainya disana, ada sebucket mawar putih. Aku segera megambilnya, mencium bau harumnya, dan terus bertanya siapa sebenarnya yang mengundangku kesini. Dito kah?

happy graduation, Sya” terdengar suara seseorang dari belakangku. Aku perlahan membalikkan badan.

“O, Ota? Ini kamu?” aku berlari kecil sembari mengangkat rok kebayaku, aku menghampirinya, lalu memeluknya. “Ta kamu kemana aja? Aku kangen Ta. Kenapa kamu pergi?” ar mataku menetes deras

“kamu kok jadi cengeng gini sih?” tanyanya.

Bagaimana mungkin aku tidak menangis ketika melihat orang yang selama ini aku nanti sudah kembali.

“selamat wisuda ya, aku kalah loh sama kamu” Ota menyeka air mataku.

“kamu jahat banget sih Ta” air mataku masih terus menetes, entah antara senang dan haru, semua jadi satu. “aku sayang kamu. Aku udah ga sama Dito satu hari setelah kita pulang dari Puncak. Tapi kamu malah pergi gitu aja. Kamu tuh jahat banget, ga tanggung jawab”

“iya, maafin aku ya. Aku kira kamu ga akan bisa tinggalin dia. Aku terlalu takut ga bisa lagi sama kamu. Jadi aku langsung pindah ke Adelaide, ambil ekstensi disana. Maaf ya” Ota menarikku kembali kepelukannya.

“ehm ehm.. misi mbak, mas, mau ambil tangga” suara petugas kebersihan mengagetkan kami. Sungguh tidak enak rasanya kepergok sedang dalam posisi seperti ini. aku menyeka air mataku, Ota mempersilahkan petugas itu mengambil tangga.

“yaudah kita kebawah yuk. Aku kenalin kamu sama mama ayah ku” ajakku sembari menarik tangan Ota, hal yang dulu sering aku lakukan padanya.

Akhirnya, ia kembali.

NB : This story is only fiction.

(12 Desember 2013)

Categories: letShare | Tags: , , | Leave a comment

Jangan Buang Sampah Sembarangan

Yogi fokus menyetir sedan tua miliknya yang ia beli dari hasil tabungannya selama enam tahun dan tentu saja dari uang tambahan orangtuanya. Hatinya tak karuan, mencoba menguatkan diri untuk mengungkapkan rasa suka pada  perempuan yang sedang berada disamping kursi kemudinya. Riri, nama gadis  berusia 16 tahun yang kini mengisi hatinya.

“Ri, kita makan dulu ya? ga langsung pulang” tanya Yogi dengan sedikit gemetar. Riri masih sibuk memakan siomay didalam plastik yang dibelinya didepan gerbang sekolah.

“oke ka. nanti aku bilang mama dulu ya” Riri menjawab sembari melahap potongan terakhir siomaynya dari dalam kantung plastik. kemudian Riri membuka jendela mobil yang sedang di tumpanginya, membuang plastik bungkus siomay yang baru saja dimakannya.

“Ri, kok sembarangan gitu sih buang sampahnya?” tegur Yogi sedikit terkejut dengan tingkah Riri yang sangat jauh dari ekspektasinya.

Yogi sangat tidak suka melihat orang yang membuang sampah sembarangan, apalagi ditempat umum. Yogi memiliki kamar yang sangat berantakan, dan terkadang banyak sampah didalamnya, tetapi setidaknya kamar itu adalah ruang pribadinya, tidak merugikan orang lain seperti halnya membuang sampah sembarangan ditempat umum.

“nanti juga ada yang nyapuin ka.” jawab Riri santai.

Ri, aku tuh suka kamu loh. baru aja mau nembak kamu. tapi ngeliat pola pikir kamu yang kaya gini, kayanya aku ilang feeling sama kamu. aku ga mau punya pacar yang ga peduli sama lingkungannya.” ucap Yogi dalam hati.

NB : This story is only fiction.

(04 Februari 2013)

Categories: letShare | Tags: , , | Leave a comment

Riar.

Riar        : sayang, aku masih urus beberapa panel lagi. Kalo sudah, pasti aku kabari ya ;)

Me         : it’s ok Riar. Aku tunggu ya.

Menunggu Riar adalah hobi terbaruku. Riar Pratama, teman lamaku. Sudah hampir tujuh tahun kami saling kenal. Sudah selama itu pula aku bersabar menantinya.

Sedari SMA, Riar salah satu siswa terpandai disekolahnya. Entah bagaimana caranya, aku mengenal dia, kami dekat, hingga akhirnya terpisah karena dia harus melanjutkan kuliah di UGM, kampus impianku. Sedangkan aku masih harus berjuang melanjutkan SMA ku. Ya, secara usia, kami sama. Namun untuk pendidikan, Riar berada dua tahun diatasku. SMP dan SMA Riar mengikuti program akselerasi.

Bicara Riar, setelah beberapa tahun aku menyimpan rasa itu padanya, akhirnya tiba suatu ketika kami kembali berbincang. Tidak banyak yang berubah selain logatnya yang menjadi jawa. Cukup mengagetkan. Hal lainnya, ia sudah memiliki pacar. Selalu begitu.

Riar        : I just finished my job darl. How’s your day?

Me         : happy. As usual. Happy to waiting you, Riar :)

Riar        : re you kidding me?

Riar        : anyway, I need your help darl.

Me         : anytime. What’s up?

Riar        : I need a website to publish ROLD product. Can you?

Riar        : and I’ll give you some product. Let say that we have barter :p

Me         : awkay. I’ll try.

Me         : but, wait.

Me         : why don’t you ask to your Mawar?

Riar        : Mawar? I think you better than her

Me         : really? So why you still with her? *eh

Riar        : in this case I mean,

Me         : o.

Riar        : oh common, remember that we have promises?

Me         : ya.

Ya, selalu saja begitu. Berusaha mengerti bahwa Riar akan selalu ada untuk Mawar. Entah seharum apa seorang Mawar hingga Riar begitu sulit memutuskannya. Bagaimana mungkin aku dijadikannya pacar kedua, dan aku menuruti maunya. Ya, walaupun itu atas kesepakatan bersama.

Bagaimana perasaanmu jika harus bersabar menunggu pacarmu, harus berpacaran dulu dengan pacar resminya? Ah. Begitu menyakitkan. Tapi itulah yang aku rasa.

Me         : aku tahu, Mawar lebih baik dariku. Maka, jangan pernah berpikir untuk meninggalkannya untuk aku. Aku tahu Mawar lebih baik dariku. Karena dia, memiliki kamu.

Riar        : are you okay?

Me         : always :)

Riar        : so, why?

Me         : ini sudah terlalu jauh Riar. Aku sayang kamu, dan sepertinya kamupun begitu. Tapi kita masih sama-sama memiliki orang lain yang sayang pada kita. Mereka tidak pantas diperlakukan seperti ini. keputusan yang kita ambil sebelumnya itu salah.

Riar        : ya, I know.

Riar        : but, I just don’t know how my life will live without you.

Me         : you’ll be ok, Riar

Me         : mulai saat ini, jangan pernah hubungi aku lagi. Aku juga akan berusaha untuk itu. If one day we meet again, disaat dan waktu yang tepat, it means we’re, let say, we are soulmate. Kita berjodoh. Tapi kalau tidak, ya biarkan saja tetap seperti ini. jalani hidup kita masing-masing. Ok?

Riar        : serious?

Me         : aku belum pernah seserius ini sebelumnya.

Riar        : ok.

What will be, will be. We will see, on the next year. Or, ya we don’t know when. Just wait.

NB : This story is only fiction.

(25 Mei 2014 )

Categories: letShare | Tags: , , | Leave a comment

WELCOME JAKARTA #1

Malam semakin larut, tapi Jakarta ga pernah sepi. Malam itu akhirnya gue dan beberapa teman memutuskan untuk ke salah satu club di Senayan City setelah sedih karena gagal DWP dan di kasih ongkos pulang sama salah seorang teman yang cancel DWP karena alasan yang antah berantah,  seorang petinju dengan muka garang yang ternyata punya dokter kecantikan pribadi.

Tepat jam 12 malam, Domain ga seramai biasanya. Mungkin karena sebagian besar manusia hedon yang hobi jingkrak-jingkrak pada pindah ke Jiexpo untuk DWPan. semakin malam, semakin bosan, terlebih harus ngeliatin pasangan muda yang sibuk sayang-sayangan didepan mata. Hal yang sebenarnya ga harus dipikirin atau diliatin, tapi tetep aja risih kalo itu terjadi didepan mata.

Jam 1 pagi akhirnya kami memutuskan untuk ke McD senayan, sekedar duduk dan makan-makan cantik. Sampai akhirnya, datanglah Bunga (nama disamarkan .red) dengan dress kuning super pendek yang sedikit tembus pandang lengkap dengan belt hitam, black wedges 7cm, dan tas furla candy beidge yang gue prediksi itu KW.

Bunga bisa sampai ke McD, karena kami sebelumnya janjian untuk ke DWP bareng. Tapi lupa untuk dikabari bahwa akhirnya DWP di cancel. Haha. Kasian sebenarnya, tapi yasudah, here we are. Di pojokan McD.

Bunga cukup menyenangkan, kami ber haha hihi sepanjang malam. Dia banyak share tentang profesinya sebagai artis pendatang baru yang sedang merambah ke dunia female DJ.

“aku tuh ga tau ya, masa main film iya, nge-dj iya, jadi model juga iya” ujar Bunga bangga. Dan sebagai pendengar yang baik, gue hanya ber wow-wow supaya dia senang.

Ada hal menarik yang gue dapat dari Bunga, di umurnya yang baru 21 tahun ini, dia sudah berkeliling Indonesia untuk mencari uang untuk keluarganya. Bunga berasal dari Manado, tetapi pernah menetap di Jogja lalu menjadi model. No, bukan model professional untuk produk atau brand tertentu, tapi model-model yang entah untuk apa, yang hanya menggunakan lingerie atau bahkan naked. Bunga sama sekali tidak risih untuk memperlihatkan foto-foto nakednya. Bahkan gue dengan leluasa bisa mengakses facebook pribadinya dan melihat kumpulan grup KT yang Bunga katakan hanya orang tertentu yang bisa masuk ke KT tersebut. KT sendiri merupakan kepanjangan dari kategori terbatas kalau ga salah. Di KT-KT tersebut, para anggotanya bisa saling berbagi foto-foto personal mereka. Ada berapa banyak KT yang Bunga ikuti? Mungkin sekitar 20an, dengan nama grup ; Male Female Naked, sexy Bandung, naked Jogja, dan sebagainya, Hah!

Di tahun sebelumnya, Bunga juga pernah menjadi sexy dancer di Papua. Selain itu, Bunga juga menjadi atlit billyard, dan Bunga mengaku bahwa ia seringkali bertanding mewakili papua di Indonesia hingga kini. Another side of Bunga.

“Bung, lo foto-foto naked kaya gini di taro di facebook, orangtua lo gimana?” tanyaku penasaran.

“haha, bokap gue tuh ustadz tau. Dia juga punya facebook, tapi kan gue blocked mereka. Keluarga gue semuanya gue blocked, lagian gue punya akun lain yang bener. Haha” ujarnya sambil sesekali membenarkan posisi kembennya yang terlalu turun kebawah.

Anyway, I don’t know gimana ceritanya orang sekurus dia bisa punya ukuran yang besar. Well actually gue agak minder pas duduk disamping dia. Huhu!

Setelah berfoto-foto dan ketawa-ketawa ngakak untuk hal ga jelas, akhirnya sekitar pukul 5, Bunga memutuskan untuk pulang. Dan tentu saja aku pun ikut pulang. Sepanjang perjalanan, aku dan temanku hanya bisa tertawa terbahak-bahak menertawakan style Bunga, caranya menggoda sekumpulan cowok yang berada diseberang meja kami, dan cara bericaranya yang begitu tinggi mengenai job-jobnya yang belum seberapa. Coba pikir, untuk foto dengan mengorbankan harga diri seperti itu, Bunga hanya mendapat bayaran 2.5 sampai 3 juta. Is it worthed? Enggak sama sekali menurut gue.

But thanks to Bunga, yang sudah memberi pelajaran baru dari pengalamannya. Semoga kelak dia bisa benar-benar jadi artis, model, dan female DJ di jalur yang lebih baik.

Welcome Jakarta, Bunga #1

Categories: letShare | Tags: , , | Leave a comment

WELCOME JAKARTA START HERE

Ahiha! Welcome to Jakarta untuk semua teman-teman yang datang ke Jakarta dari seluruh penjuru Indonesia bahkan dunia. Kali ini gue akan share tentang beberapa pengalaman tentang teman-teman yang datang ke Jakarta untuk berbagai urusan dan alasan.

Hal ini menarik banget buat gue pribadi. karena kalau selama ini yang gue tau tentang Jakarta tentang macet, banjir, copet, serta haha hihi abg abg yang mau banget dibilang gaul, sekarang di umur yang udah dua puluh satuan ini gue dapet pengalaman lain yang ga kalah seru. Well, mungkin ini semacam bentuk real dari buku Moammar Emka yang udah gue baca dari SD. Please do not ask why I’ve already read Moammar Emka’s book since SD, karena gue sendiri juga ga tau. I Just read anything that can be read, dan saat itu yang tersedia dirumah gue adalah buku Jakarta Under Covernya Moammar Emka, lalu berlanjut ke serial-serial berikutnya yang kakak gue baca. Agak ngerasa gagal sih jadi anak SD, karena terlalu banyak hal yang udah bikin gue “tua” sebelum waktunya dari SD.

Tapi gimanapun itu, thanks to Moammar karena gue jadi tau, at least bisa ngebayangin bentuk Jakarta dari sudut pandang yang berbeda. Semoga tulisan iseng ini bisa bermanfaat bagi yang membaca, dan semoga ada yang baca. Tapi, kalaupun ga ada yang baca, tulisan ini udah cukup bikin gue seneng, karena menulis merupakan salah satu bentuk katarsis gue sebagai manusia yang ingin dikenang. aih.

And, Welcome Jakarta Start Here. Enjoy!

Categories: letShare | Tags: , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.