Ilir Ilir~

Lir ilir, lir ilir

Tandure wis Sumilir

Tak ijo royo-royo

Tak sengguh temanten anyar

Bocah angon, bocah angon

Penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno

Kanggo masuh dododira

Dododira, dododira, tumitir bedhah ing pinggir

Domono jrumatono

Kanggo seba mengko sore

Mumpung gedhe rembulane

Mumpung jembar kalangane

Ya surako

Surah HIYA!

Pertama kali memperhatikan lagu ini ketika menonton film tentang Wali Songo disalah satu stasiun tv pada jaman SD. Lalu lebih sering mendengar karena memang saya berada dilingkungan penduduk Jawa yang tinggal dipinggiran Jakarta.

Saya mulai tertarik dengan cerita-cerita Wali Songo, sampai belum lama Pau (panggilan saya untuk ayah) mengingatkan bahwa saya pernah berkata akan menjadi Wali Songo yang ke 10. ah, entah lugu atau memang sangat ambisius saya ini. Tapi review Pau itu menjadi tamparan manis buat saya pribadi, karena saat pau menyampaikan hal itu di waktu yang sangat tepat. Tepat ketika saya berada dititik dimana saya malas beribadah. “gimana mau jadi wali songo yang ke 10 kalo ngaji aja ga pernah?” ucap Pau kala itu.

Kembali ke lagu Ilir-ilir, selain karena instrumennya yang sangat enak didengar, dan karena diciptakan oleh Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu orang yang saya idolakan, saya menyukai lagu ini karena dibalik kata-kata slank Jawa yang ada didalam liriknya, terdapat makna yang sangat keren menurut saya.

Mungkin terlihat agak sok tahu, terlebih dengan kemampuan berbahasa Jawa saya yang cukup memprihatinkan, tapi secara garis besar saya memaknai lagu ini sebagai lagu yang membuat tenang dan santai (lir ilir), melihat suatu harapan dan berpikir positif (tandure wis sumilir), bekerja dalam kegembiraan (bocah angon), berjuang untuk mencapai tujuan walaupun banyak halangan yang akan menemani (penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno), berpikir matang dan memperbaiki apa yang menjadi tujuan untuk masa depan (tumitir bedhah ing pinggir, domono jrumatono), pelan tapi pasti, gunakan waktu semaksimal mungkin (mumpung gedhe rembulane), dan tak lupa untuk terus bergembira menikmati hidup (ya surako, surak hiya!

Ya, lagu ini sangat optimis membuat siapa saja yang mendengarnya manjadi lebih bijaksana dalam menilai dan menjalani kehidupan. Setidaknya itu yang saya rasakan Smile

Categories: letShare | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: