KART(KINI)

Selamat hari Kartini, perempuan-perempuan hebat! Perempuan? Bukan wanita? Ah, ini hal menarik yang baru saja saya dapatkan di twitter salah seorang teman lama saya. Bahwa ternyata wanita itu dalam etimologi jawa berarti “wani ditoto” yang artinya, berani di atur. Peninggalan kultur feodal ucapnya. Sedangkan perempuan berasal dari kata per-empu-an. Per berarti makhluk, sedangkan empu berarti mulia. Jadi perempuan berarti makhluk yang dimuliakan. Dan saya yakin, kebanyakan kalian kaum hawa, pasti ingin disebut perempuan dibandingkan wanita ketika sudah mengetahui arti dari panggilan kita ini.

Ya, emansipasi yang dicetuskan R.A Kartini agaknya semakin menggebu-gebu dibenak kita. Setiap perempuan ingin menjadi hebat dan dapat bersaing dengan lelaki. Menjadi tetinggi disegala segmen kehidupan, dan begitu pula dengan saya. itu hal yang wajar menurut saya, terlebih dengan meningkatnya perempuan-perempuan hebat saat ini, yang secara alami membangkitkan rasa ingin bersaing yang cukup kuat dalam benak setiap orang.

Tapi satu hal yang sering kali saya baca dari buku biografi Nanny Soedarsono, bahwa sehebat apapun seorang wanita, ia akan tetap kembali ke kodratnya, berada dirumah. Saya mulai mengerti sekarang. Bahwa menyadari atau tidak, kita akan tetap menjadi wanita dimasa depan. Ya, akan selalu di atur, namun dengan ikhlas.

Jika saat ini, dengan ego masa muda yang masih tinggi, sebagian perempuan masih enggan menyebut dirinya wanita karena seolah tidak terima jika diatur, ataupun tidak berprofesi sesuai dengan apa yang ia harapkan. Percayalah ini, seiring dengan usia yang bertambah, kita akan semakin ikhlas menjadi pengikut pria-pria itu, menjadi pengikutnya, secara ikhlas. Karena memang itulah kodrat kita.

Sebagai contoh, lihat saja ibu saya. Ia perempuan yang hebat saat masa-masa jayanya. Bekerja disalah satu perusahaan multinasional, ditambah dengan pekerjaan sampingannya sebagai guru bahasa asing disalah satu lembaga yang cukup terkenal, ia terlihat super. Ya, sangat super, keren, hebat. Tetapi seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia, saat ini ia tidak lagi seproduktif dulu. Ia hanya guru biasa sekarang, yang jika ada waktu senggang akan kembali ke depan mesin jahitnya untuk berkarya, dan sesekali ke dapur untuk belajar memasak. Jika kebanyakan orang akan rindu dengan masakkan ibunya yang enak, mungkin saya akan rindu dengan masakkan ibu yang bisa dibilang cukup aneh, karena eksperimennya.

Dari situ, saya membenarkan bahwa perempuan memang akan berlaku untuk masa-masa produktif seorang wanita, sampai akhirnya ia akan kembali ke rumah untuk mengabdi kepada keluarganya, dan akan seutuhnya menjadi seorang wanita.

Apapun pilihanmu saat ini, perempuan ataupun wanita, jadilah Kartini yang ikhlas menjalani kehidupan, jadilah hebat karena telah berproses, jadilah cantik karena hati yang selalu terjaga. Selamat hari Kartini, kita yang akan selalu hebat! \(^o^)/

Categories: letShare | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: