Lainnya

“Eh, sini tangan lo gue gambar” pintaku pada Ota saat ia duduk disampingku ketika tidak ada mata kuliah dikelas. Lalu Ota memberikan tangannya pasrah padaku.

“yang bagus tapi ya” jawabnya.

Aku hanya tersenyum sembari memgegang tangan kanannya dan mulai menyoret-nyoret kelima kukunya dengan spidol, pinsil mekanik, bahkan eyeliner yang ada di tempat pinsilku.

“ini hadiah ulangtahun dari gue, jangan dihapus ya” pintaku padanya.

Gambar-gambarku di kuku Ota semakin absurd. Aku tidak pandai menggambar, dan sesi nail art ini mungkin hanya sebatas modus agar setidaknya aku dapat dekat dengannya.

Ota merupakan mahasiswa pindahan dari universitas lain dikampusku, namun untuk jurusan yang sama. Entah karena alasan apa ia pindah dari kampus lamanya. Yang pasti, aku suka dengan sepatu-sepatunya yang eye catching, dan hampir setiap hari ia berganti-ganti sepatu. Ah, dasar wanita!

Lalu hari itu, menjadi hari pertamaku lebih dekat dengan Ota, dan menjadi awal hubungaku dengannya.

***

Ota         : Aku udah didepan loh

Me         : wait ya, otw turun

Ota         : iya, santai aja

“hei! Maaf ya lama. Tadi tuh aku ngurus proposal buat lomba office itu loh. Ya ampun repot banget Ta” ucapku tergesa-gesa pada Ota sambil menggunakan seat belt.

“kalo mau sukses kan emang harus repot Sya hehe.” Jawabnya. “Jadi kita mau kemana? Macet banget loh tadi dijalan”

“kamu udah makan? Ke Santa aja yuk!” ajakku padanya.

“oke siap ibu negara”

Ota melaju mobilnya pelan dari pelataran tempat makan dikisaran Darmawangsa. Kami menghabiskan waktu sembari bernyanyi bersama lagu-lagu yang keluar dari tape mobilnya. Aku suka suaranya, aku suka senyum ramahnya, aku suka caranya menerima dan mengerti aku. Tidak seperti Dito, pacarku.

“Ta, kakakku lagi di HC nih. Kita nyusul aja yuk” pintaku pada Ota

“boleh. Terus kamu gajadi ke Santa?”

“gausah, besok-besok masih bisa kan hehe”

“baiklah”

Ah, ini yang tidak Dito punya. Menerima kelabilanku dengan manis. Tidak ada emosi, tidak ada ceramah, tidak ada omelan. Ini yang membuatku semakin suka dengan Ota.

“bisa aja lo” semprot kakak ku tepat disampingku. “gue bilangin Dito loh!” ancamnya.

“jangan dong, gila lo”

“yaudah nanti billnya lo yang bayar”

“nanti aku aja kak yang bayar” jawab Ota

“ih gitu dong haha” Aku hanya bengong sembari menatap sinis kakak ku. Awas dia.

Hari semakin malam, saat ini sudah pukul 11.00 malam. Kakak ku dan suaminya mengajakku untuk pergi ke salah satu club di bilangan Kemang. Aku setuju, pun dengan Ota yang sampai dua minggu sejak kali pertama aku mencoret-coret tangannya tidak pernah menolak permintaanku.

“udah jam segini, gue pulang kemana nih? Pasti udah dikunciin” tanyaku saat melihat jam di gadgetku. Waktu menunjukkan pukul 2 pagi. Terlalu pagi untuk pulang kerumah.

“yah, dirumah gue ada si gendut. Mau tidur dimana lo nanti” jawab kakakku.

“yaudah sambil jalan aja yuk sampe pagi” ajak Ota.

Akhirnya kami berpisah dengan kakakku dan suaminya. Aku tidak tahu akan dibawa kemana oleh Ota. Kami berjalan begitu saja mengikuti arah, sampai akhirnya aku sadar bahwa kami sudah berada di atas puncak pass.

“kamu capek ga? Aku ada villa disini. Kita bisa istirahat sampai siang. Tapi kalo mau nongkrong-nongkrong aja gapapa sih kita muter-muter aja disini” tanya Ota sembari meminggirkan mobilnya.

“aku bebas kok. Kan kamu yang nyetir. Tapi prefer ke villa aja sih. Nanti aku pijitin deh tangan kamu ya”

“oke”

Sesampainya di villa, Ota segera menelfon seseorang yang menjaga villanya. Orang itu langsung keluar dan membukakan pintu. Kami disambut hangat, ramah sekali dengan logat sundanya yang kental.

“Aa teh mau kesini kenapa dadakan sekali? Mamang belum sempat beberes a.” Ucap sang penjaga villa.

“ah gapapa mang. Ini Cuma sebentar kok. Besok siang juga udah pulang.” Jawab Ota

“kalo gitu mamang teh pamit ya kang, itu mamang sudah buatkan teh dimeja, silakan diminum.”

“iya, makasih ya kang” jawabku dan Ota serentak.

Pada akhirnya aku dan Ota tidak istirahat. Kami hanya duduk-duduk diatas sofa sambil menikmati teh hangat bikinan mamang penjaga villa.

Aku mengambil tangan Ota, dan mulai memijatnya. Ini bukan hal baru untukku, karena sebelumnya akupun seringkali memijat Dito jika ia sedang lelah setelah lama menyetir. Hanya beda tempat, dan tentunya orang.

“kata ayahku, apapun penyakitnya, bagian ini yang harus dipijat sampai lemas. Ga tengang kaya gini lagi” ucapku pada Ota sambil memijat bagian bawah ibu jarinya.

“kata ayahku, calon istri yang baik itu yang bisa pijat” ucap Ota.

“kaya aku gitu ya Ta? Haha” aku tertawa meledeknya.

Setelah merasa cukup untuk memijat kedua tangan Ota, aku kembali bersender pada sofa. Perlahan aku menaruh kepalaku tepat dibahu kiri Ota. Entah apa yang akan Dito katakan jika ia mengetahui hubunganku dengan pria lain seperti ini. aku tak sanggup membayangkannya, dan tak ingin.

“aku sayang kamu, Sya” ucap Ota yang perlahan mengelus-elus rambutku halus. Aku hanya terdiam, bingung dengan perasaanku sendiri. “Sampai kapan kita kaya gini? Sampai kapan aku jadi yang kedua buat kamu?” suara Ota bergetar. Aku tahu ia meneteskan air matanya, tapi aku tak berani menatapnya.

“a, aku gatau Ta. Maaf” jawabku pelan. Aku takut, takut sekali. Aku takut kehilangan momen-momen bahagiaku dengan Ota. Namun aku juga terlalu takut untuk melepaskan Dito. Dito yang sudah sangat setia bersamaku satu setengah tahun belakangan ini. Dito yang sudah sangat dekat dengan keluargaku.

“aku bisa jadi lebih baik dari Dito, Sya”

Aku mengabaikan ucapan Ota. Aku mengesampingkan tubuhku, dan memeluknya erat. Perlahan air matakupun jatuh membasahi bagian lehernya. “tolong kasih aku waktu untuk berpikir Ta”

***

Setelah kepulanganku dari Puncak, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Ota. Nomernya tak lagi bisa dihubungi, bahkan tak satupun teman yang tahu contact barunya. Aku sudah mencoba untuk chat facebooknya, mention twitternya, tapi tidak pernah ada jawaban.

***

SATU TAHUN KEMUDIAN…

Akhirnya, ini hariku setelah empat tahun menyelesaikan kuliahku selama empat tahun. Akhirnya aku lulus, IPK ku sangat memuaskan, bahkan aku sudah bekerja di perusahaan impianku. Ini hariku.

“halo, Assalamualaikum” jawabku saat mengangkat telfon dari nomer yang tidak ku kenal.

“walaikumsalam. Apa kabar, Sya?” tanya seseorang dari seberang.

“baik Alhamdulillah. Ini siapa ya?” tanyaku penasaran.

“kamu bisa ke rooftop sekarang. Aku tunggu disitu ya. Bye. Tuut tuut”

Aku terdiam. Aku lalu memberikan beberapa bucket bunga dan ijazahku pada orangtuaku. “aku pergi bentar ya ma” aku segera berlari kecil mencari lift, menuju rooftop. Sesampainya di lantai 7 aku masih harus manaiki anak tangga untuk sampai kesana.

Sesampainya disana, ada sebucket mawar putih. Aku segera megambilnya, mencium bau harumnya, dan terus bertanya siapa sebenarnya yang mengundangku kesini. Dito kah?

happy graduation, Sya” terdengar suara seseorang dari belakangku. Aku perlahan membalikkan badan.

“O, Ota? Ini kamu?” aku berlari kecil sembari mengangkat rok kebayaku, aku menghampirinya, lalu memeluknya. “Ta kamu kemana aja? Aku kangen Ta. Kenapa kamu pergi?” ar mataku menetes deras

“kamu kok jadi cengeng gini sih?” tanyanya.

Bagaimana mungkin aku tidak menangis ketika melihat orang yang selama ini aku nanti sudah kembali.

“selamat wisuda ya, aku kalah loh sama kamu” Ota menyeka air mataku.

“kamu jahat banget sih Ta” air mataku masih terus menetes, entah antara senang dan haru, semua jadi satu. “aku sayang kamu. Aku udah ga sama Dito satu hari setelah kita pulang dari Puncak. Tapi kamu malah pergi gitu aja. Kamu tuh jahat banget, ga tanggung jawab”

“iya, maafin aku ya. Aku kira kamu ga akan bisa tinggalin dia. Aku terlalu takut ga bisa lagi sama kamu. Jadi aku langsung pindah ke Adelaide, ambil ekstensi disana. Maaf ya” Ota menarikku kembali kepelukannya.

“ehm ehm.. misi mbak, mas, mau ambil tangga” suara petugas kebersihan mengagetkan kami. Sungguh tidak enak rasanya kepergok sedang dalam posisi seperti ini. aku menyeka air mataku, Ota mempersilahkan petugas itu mengambil tangga.

“yaudah kita kebawah yuk. Aku kenalin kamu sama mama ayah ku” ajakku sembari menarik tangan Ota, hal yang dulu sering aku lakukan padanya.

Akhirnya, ia kembali.

NB : This story is only fiction.

(12 Desember 2013)

Categories: letShare | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: