Riar.

Riar        : sayang, aku masih urus beberapa panel lagi. Kalo sudah, pasti aku kabari ya ;)

Me         : it’s ok Riar. Aku tunggu ya.

Menunggu Riar adalah hobi terbaruku. Riar Pratama, teman lamaku. Sudah hampir tujuh tahun kami saling kenal. Sudah selama itu pula aku bersabar menantinya.

Sedari SMA, Riar salah satu siswa terpandai disekolahnya. Entah bagaimana caranya, aku mengenal dia, kami dekat, hingga akhirnya terpisah karena dia harus melanjutkan kuliah di UGM, kampus impianku. Sedangkan aku masih harus berjuang melanjutkan SMA ku. Ya, secara usia, kami sama. Namun untuk pendidikan, Riar berada dua tahun diatasku. SMP dan SMA Riar mengikuti program akselerasi.

Bicara Riar, setelah beberapa tahun aku menyimpan rasa itu padanya, akhirnya tiba suatu ketika kami kembali berbincang. Tidak banyak yang berubah selain logatnya yang menjadi jawa. Cukup mengagetkan. Hal lainnya, ia sudah memiliki pacar. Selalu begitu.

Riar        : I just finished my job darl. How’s your day?

Me         : happy. As usual. Happy to waiting you, Riar :)

Riar        : re you kidding me?

Riar        : anyway, I need your help darl.

Me         : anytime. What’s up?

Riar        : I need a website to publish ROLD product. Can you?

Riar        : and I’ll give you some product. Let say that we have barter :p

Me         : awkay. I’ll try.

Me         : but, wait.

Me         : why don’t you ask to your Mawar?

Riar        : Mawar? I think you better than her

Me         : really? So why you still with her? *eh

Riar        : in this case I mean,

Me         : o.

Riar        : oh common, remember that we have promises?

Me         : ya.

Ya, selalu saja begitu. Berusaha mengerti bahwa Riar akan selalu ada untuk Mawar. Entah seharum apa seorang Mawar hingga Riar begitu sulit memutuskannya. Bagaimana mungkin aku dijadikannya pacar kedua, dan aku menuruti maunya. Ya, walaupun itu atas kesepakatan bersama.

Bagaimana perasaanmu jika harus bersabar menunggu pacarmu, harus berpacaran dulu dengan pacar resminya? Ah. Begitu menyakitkan. Tapi itulah yang aku rasa.

Me         : aku tahu, Mawar lebih baik dariku. Maka, jangan pernah berpikir untuk meninggalkannya untuk aku. Aku tahu Mawar lebih baik dariku. Karena dia, memiliki kamu.

Riar        : are you okay?

Me         : always :)

Riar        : so, why?

Me         : ini sudah terlalu jauh Riar. Aku sayang kamu, dan sepertinya kamupun begitu. Tapi kita masih sama-sama memiliki orang lain yang sayang pada kita. Mereka tidak pantas diperlakukan seperti ini. keputusan yang kita ambil sebelumnya itu salah.

Riar        : ya, I know.

Riar        : but, I just don’t know how my life will live without you.

Me         : you’ll be ok, Riar

Me         : mulai saat ini, jangan pernah hubungi aku lagi. Aku juga akan berusaha untuk itu. If one day we meet again, disaat dan waktu yang tepat, it means we’re, let say, we are soulmate. Kita berjodoh. Tapi kalau tidak, ya biarkan saja tetap seperti ini. jalani hidup kita masing-masing. Ok?

Riar        : serious?

Me         : aku belum pernah seserius ini sebelumnya.

Riar        : ok.

What will be, will be. We will see, on the next year. Or, ya we don’t know when. Just wait.

NB : This story is only fiction.

(25 Mei 2014 )

Categories: letShare | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: