Soulmate

Aku terhenti. Di sudut sana mataku terarah. Sudut dimana ada dia diantaranya. Sosok itu, sosok ramah yang selalu aku kagumi secara tersembunyi. Apa dia mengetahui keberadaanku? Apa dia menyadari aku selalu menatapnya dimanapun ia berada?

“woy Lex! Apa kabar lo?” tanya seorang pria berbadan tinggi besar kepada salah seorang temannya. Alex namanya.

“baik-baik gue, bro. Lo gimana? Gue denger udah lolos ITB ye? Akhirnya. Selamat, Bi!” jawab Alex kepada si penanya, Alby.

Alfarabby Auffar. Lihat dia, sosoknya. Ah, tubuh gagah itu, lengan besar dan terlihat kokoh itu. Aku yakin, selain bermain basket seperti yang sedang ia lakukan saat ini, dia juga disiplin berlatih angkat beban. Alby, lihatlah kemari. Aku yang selalu memandangi dari setiap seberang tempatmu berada.

heh kunti, ngelamun aja lo!” kaget seorang wanita berambut panjang kepada temannya yang sedang asik memandang seseorang diseberangnya.

“aku ga ngelamun kok!” jawabnya singkat. Sinis.

“nah! Pasti lo lagi ngeliatin cowok gede itu ya? Ngimpi mau deket sama dia wuuu!” ujar sang teman menurunkan semangat.

“gapapa, aku seneng kok ngeliatin dia aja dari sini. Itu udah cukup buat aku.” Sembari beranjak meninggalkan temannya.

Bersama denganmu mungkin benar hanyalah mimpi. Ya, sebuah mimpi disiang hari yang hanya akan terjadi dalam waktu beberapa saat saja. Ah, dapat memimpikannyapun aku sungguh akan bahagia. Lihat dirimu, banyak cinta disana. Sedang aku? Jika sesekali orangtua ku mengingatku dalam doanya, itupun sudah sangat bahagia untukku.

“Bi, kamu keren mainnya!” sorak seorang perempuan dengan kaki jenjang sembari berlari kecil menghampiri Alby yang sedang terduduk lelah dipinggir lapangan.

“Jess? Kamu kok disini?” tanya Alby jengah.

“Aku mau liat kamu latihan aja hehe. Udah makan? Ada tempat dimsum all you can eat loh, kamu pasti suka.”

“hm, ayo deh boleh.”

Alby, siapa perempuan itu? Ada hubungan apa kamu dengannya? Kenapa kamu mau pergi berdua dengannya? Aku sedih. Harusnya aku sadar, aku hanyalah seorang yang tidak akan pernah dianggap. Ya, harusnya aku sadar itu dari dulu.

“Jess, kamu pernah merasa mencintai seseorang tapi kamu belum pernah melhat wujudnya? Hanya ada didalam imajinasimu, mimpimu.” Tanya Alby sembari menyetir Fordnya.

“hah? Maksud kamu?”

“gini loh Jess, belakangan ini aku sering memimpikan seorang perempuan. Cantik. Aku sangat mencintainya, dia pun begitu. Tapi aku tidak pernah tahu siapa dia. Sialnya, mimpi itu terbawa sampai alam nyataku. Aku merasa kalo dia selalu ada didekatku, memperhatikanku.”

“Alby, kita udah dari TK yah sahabatan. Tapi baru kali ini aku denger kamu ga realistis kaya gini. Aneh deh!”

“iya..”

anyway, aku turun di Fasatelo aja deh Bi. Feel like bored. Udah lama ga kesana. Wanna join?” tawar Jessica pada Alby.

not today. I wanna meet my soulmate on my dream, Jess.”

“haha gila kamu! Thanks ya udah traktir makannya tadi. Bye Bi.” Kalimat terakhir Jessica sembari mencium kedua pipi Alby lalu keluar dari mobilnya.

“bye Jess. Jangan mabok ya!”

Sedang apa Alby sekarang? Bersama perempuan tadikah? Aku cemburu. Harusnya aku yang berada disampingnya. Harusnya aku yang memberinya minum setiap kali ia selesai bermain basket bersama teman-temannya. Harusnya aku!

“GOD! Jadi siapa perempuan itu sebenarnya!” Bentak Alby pada dirinya sendiri.

“kalo dia emang jodoh gue, deketin Tuhan! Tunjukkin dia ke gue!” Alby semakin emosi, ia terus menginjak pedal gasnya tanpa kendali.

“BRAAAAAAAAAAAAK!”

***

Alby? Kenapa sepagi ini dia berlatih basket? Ah, mungkin dia sedang bosan. Tapi ini baru pukul 3 pagi. Sedang apa dia? Mungkinkah ia putus cinta lalu dan sekarang sedang patah hati? Entahlah. Terimakasih Tuhan, aku bisa lebih lama memandanginya saat ini. aku ingin berada lebih dekat dengannya.

“loh kamu!” teriak Alby kaget.

“siapa? Aku?” tanya sang perempuan berambut panjang.

“iya kamu. Kamu ngapain disini?”

“kamu bisa ngeliat aku? Becanda kan?”

“jadi, yang selama ini ada dimimpi aku itu kamu? Dan kamu..” Alby terhenti

“aku ini setan.” Lanjut sang perempuan. “aku ini setan yang selalu memandangi kamu dengan leluasaku, yang selalu berdoa bahwa suatu saat kamu akan menyadari keberadaanku.”

“dan kamu berhasil” jawab Alby lemas. “aku sudah menjadi sepertimu. Karena ingin berada lebih dekat denganmu.”

“jadi kamu sudah meninggal?” tanya sang perempuan terkejut.

“iya. Aku meminta agar Tuhan segera mempertemukanku dengan kamu. Karena aku merasa kamulah jodohku. Dan Tuhan mengabulkannya. Aku baru saja kecelakaan beberapa jam lalu.”

“maaf..”

“tidak, ini bukan salah kamu. Aku yang memintanya. Dan aku bahagia bisa bertemu kamu sekarang. Mungkin inilah jalan kita.” Alby tersenyum.

“terimakasih.”

NB : This story is only fiction.

(07 Juni 2013)

Categories: letShare | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: