Mencari Tuhan

Beberapa minggu terakhir, aku sibuk bertanya, siapa itu Tuhan? Kenapa aku harus menyembahNya? Kenapa pula harus ada aku di dunia ini? Kenapa Tuhan menciptakan manusia dan memilih manusia untuk menjadi pemimpin di bumi? Apa Tuhan tak mampu mengurus bumi ini sendiri? atau Tuhan merupakan pemilik saham yang suka drama, hingga menciptakan manusia sebagai hiburan bak menonton film?

Pertanyaan itu tak berhenti, bahkan terus bercabang dan hampir gila aku dibuatnya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk kembali fokus mengerjakan skripsi dan beberapa project, sembari menyusun rencana, bahwa ketika ini semua selesai, aku memiliki cukup uang dan mendapat gelar S.Kom ku, aku akan melakukan perjalanan untuk menemukan Tuhan.

Aku hanya ingin semua pertanyaan-pertanyaan yang mungkin terbaca dangkal itu dapat terjawab. Bukan dengan kata-kata orang yang dilabeli ustadz atau pemuka agama lainnya, apalagi pada orang yang pasrah saja karena Tuhan merupakan kebenaran hakiki, namun diperoleh dari katanya dan katanya, tanpa mencari tahu lebih dalam.

Aku hanya ingin yakin dengan hal yang selama ini aku jalani, bukan hanya meyakini agama hasil turunan yang memang sudah ada bahkan sejak kakek buyutku bernafas. Aku percaya, keyakinan harus dicari, dan aku sangat mengapresiasi bagi orang-orang yang ingin mencari.

Salah satu temanku saat ini menjadi atheis karena ia sendiri masih mencari tuhannya. Ia mungkin tak beragama, dan tak berTuhan, namun sampai saat ini aku yakin bahwa ini memang proses dari perjalanan dalam pencariannya. Aku tak berharap menjadi sepertinya, namun sangat salut mengenai keberaniannya dalam bersikap. Bersikap untuk tak menerima begitu saja apa yang ia dapat.

Sampai akhirnya malam ini, 1 Juni 2015, bertepatan dengan malam Nispu Sya’ban, aku seolah kembali mendapatkan ruh ku. Ruh yang entah selama ini hilang kemana, karena terlalu sibuk bertanya mengenai tuhan dan mengejar dunia. Ya, ruh itu kembali. Ia bergetar ketika membaca surah Al-Fatihah.

Aku begitu menikmati saat-saat dimana aku seolah dapat berinteraksi langsung dengan tuhan. Saat berdiam diri sembari zikir seperti yang selama ini di ajarkan pau, saat membaca ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur’an yang bahkan aku tidak tahu artinya, saat tiba-tiba aku menangisi hidup yang sedang berjalan lancar, bahkan saat aku melakukan hypnotheraphy untuk diriku sendiri.

Aprisya, bagian mana lagi yang mau engkau pertanyakan?

Aku mulai menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan itu timbul justru ketika aku sedang jauh-jauhnya dengan Tuhan. Dan ketika aku kembali mendekat, segala pertanyaan itu seolah terjawab tanpa dapat di argumentasikan lagi.

Akupun mulai sadar bahwa setiap kalimat yang pau ucapkan memang kadang terdengar spele, namun bermakna sangat luas. Karena disetiap akhir perdebatanku mengenai apapun dengannya, ia selalu berkata, “Aprisya, tidak semua hal dapat diselesaikan dengan logika, untuk itu hati ada.”

Aku tidak perlu kemana-mana untuk mencari Tuhan, karena Tuhan ada dimanapun dan kapanpun saat aku mendekatkan diri padaNya.

Categories: letShare | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Mencari Tuhan

  1. mysukmana

    Tuhan ada dimana mana :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: